Pindah Ke Negeri Orang – Bagian 1

Sejak kecil, saya adalah anak yang selalu memimpikan untuk menjelajahi negeri orang. Namun, saya selalu membayangkan Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Australia ataupun Inggris yang mana memang sering menjadi kegemaran atau tujuan pertama turis-turis atau anak muda Indonesia sebagai negeri untuk dikunjungi. Seunik-uniknya, mungkin saya hanya memimpikan untuk bisa melihat menara Eiffel di Paris, Perancis.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan beremigrasi ke negara yang bisa dibilang tidak saya kenal sama sekali. Mungkin memang pizza ataupun menara miring di Pisa sudah terkenal di Indonesia, namun jujur saya hampir tidak memiliki pengetahuan ataupun keinginan sekecil apapun untuk berlabuh secara permanen di tempat saya berada sekarang.

Kesempatan pertama untuk perjalanan pertama saya keluar negeri tiba pada tahun 2002 ketika saya berumur 17 tahun dan baru punya KTP; atau baru gede istilahnya, untuk bisa mengunjungi keluarga besar dari pihak mama di Singapura. Pertama kali saya menginjakkan kaki ke Singapura, tentunya kesan pertama saya adalah, wow indahnya tempat ini. Wajar saja, ini pertama kalinya saya pergi ke luar negeri.

Ketika perjalanan saya berakhir, hanya ada satu tujuan didalam kepala saya, saya harus bisa kembali lagi, ataupun mungkin mencoba negara lain, seperti contohnya Jepang. Dan dengan ini dibenak saya, saya pun belajar sebaik mungkin, menyelesaikan kuliah saya secara tepat waktu dan setelah bekerja selama 2 tahun, sayapun berhasil menginjakkan kaki kembali di Singapura, dan juga Jepang pada tahun 2009, ketika saya berumur 25 tahun.

Yup, saya butuh waktu 7 tahun untuk bisa mewujudkan mimpi kecil saya kembali. Jepang jelas merupakan mimpi lebih besar yang menjadi kenyataan. Pada saat saya berumur 25 tahun ini, saya pun mulai membayangkan yang lebih jauh lagi, misalkan melanjutkan kuliah S2 saya ke Inggris, Amerika Serikat ataupun Australia.

Sayapun mulai mencari beasiswa S2 di Inggris ataupun di Australia dan Amerika. Namun pada saat itu, saya sedang pendekatan dengan seorang pria yang tidak berasal dari ketiga negara ini.  Dan dapat saya konfirmasi bahwa hubungan jarak jauh sangatlah sulit bagi pasangan manapun. Walaupun begitu, ini tidak mengecilkan tekad saya untuk melanjutkan pendidikan. Sayapun tetap kukuh untuk mencari beasiswa disalah satu negara bule ini.

Lalu apakah yang harus saya lakukan dengan hubungan jarak jauh saya yang mulai serius?

Tunggu post saya selanjutnya…

Lascia un commento

Il tuo indirizzo email non sarà pubblicato. I campi obbligatori sono contrassegnati *